Skip to main content
Umum

Departemen Ilmu Politik Gelar Bedah Buku “Jalan Keadilan Sumitro Djojohadikusumo”

By Agustus 6, 2025Agustus 12th, 2025No Comments3 min read

DEPOK, 6 Agustus 2025 – Departemen Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) telah menyelenggarakan acara Bedah Buku “Jalan Keadilan Sumitro Djojohadikusumo” pada hari Rabu, 6 Agustus 2025. Acara yang bertempat di Ruang Serbaguna Science Techno Park UI ini menjadi sebuah forum refleksi intelektual atas warisan pemikiran Sumitro Djojohadikusumo, salah satu arsitek ekonomi terpenting dalam sejarah Indonesia.

Buku “Jalan Keadilan Sumitro Djojohadikusumo” merupakan karya kolaboratif dari 13 penulis yang berupaya menampilkan sosok Sumitro lebih dari sekadar seorang begawan ekonomi. Fokus utama buku ini adalah menggali dimensi pemikirannya yang lebih fundamental, yaitu pencarian tanpa henti akan keadilan. Para penulis membedah berbagai aspek pemikiran Sumitro, mulai dari analisis kebijakan seperti Program Benteng, pandangannya mengenai politik hukum, visi keadilan regional dan lingkungan yang melampaui zamannya, hingga perannya sebagai teknokrat-ideologis yang menjadikan ilmu pengetahuan sebagai instrumen untuk mencapai cita-cita nasionalisme dan keadilan sosial.

Acara diskusi bedah buku ini menghadirkan tiga pembicara utama. Soedradjad Djiwandono, mantan Gubernur Bank Indonesia yang juga menantu Sumitro, menegaskan bahwa patriotisme adalah kunci utama dalam pemikiran Sumitro agar tujuan keadilan dapat tercapai. Ia mengutip prinsip yang selalu diajarkan Sumitro kepada para juniornya, yaitu untuk bersedia berbuat bagi kebaikan orang lain tanpa pamrih. “Janganlah mengharapkan apa yang saya peroleh dari sumbangan, apalagi menuntut,” ujar Djiwandono, mengenang pesan Sumitro. Ia menambahkan bahwa Sumitro menghimbau, “don’t expect and, of course, don’t demand even recognition.”

Fachry Ali, seorang cendekiawan sosial, menyoroti bahwa obsesi utama Sumitro adalah mewujudkan “the enlightening state” atau negara yang mencerahkan. Menurut Fachry, negara yang mencerahkan memiliki tugas untuk membangun keadilan sosial, kesejahteraan, dan yang terpenting, kecerdasan. “Negara harus lebih cerdas dari masyarakat, dan tugasnya kemudian adalah mencerdaskan masyarakat,” papar Fachry Ali. Baginya, pemikiran Sumitro adalah wujud dari statecraft, yaitu kapabilitas mengelola negara.

Andrinof A. Chaniago, dosen Ilmu Politik Universitas Indonesia, menekankan bahwa salah satu masalah besar bangsa Indonesia adalah terpinggirkannya pemikiran paripurna dari para teknokrat besar seperti Sumitro dari arus utama kebijakan pembangunan. “Inti persoalan kita adalah tidak adanya kerjasama antara pemimpin politik dengan pemikir besar,” ujarnya. Ia berpendapat bahwa untuk maju, Indonesia perlu memperkuat lembaga think tank dan membangun learning community agar kebijakan yang diambil benar-benar berdasarkan pemikiran yang matang, bukan menjadi subordinat dari kepentingan politik sesaat.

Diskusi bedah buku yang dimoderatori oleh Direktur Program Pendidikan Vokasi UI, Padang Wicaksono, ini ditutup dengan ringkasan oleh sosiolog Robertus Robet.

Rektor Universitas Indonesia, Heri Hermansyah, hadir dan memberi kata sambutan dengan mengenang jasa Sumitro bagi Universitas Indonesia. Sambutan hangat juga disampaikan oleh perwakilan keluarga, Aryo Puspito Setyaki Djojohadikusumo, yang berbagi kenangan personal tentang kakeknya. Turut hadir pula anak dari Sumitro Djojohadikusumo, di antaranya Bianti Djiwandono, Maryani Djojohadikusumo, dan Hashim Djojohadikusumo.
###